Target PBB Desa Sukanagalih Mencapai Rp1,4 Miliar

Perumahan dan Vila Sulit Ditagih

2

PACET – Target Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Desa Sukanagalih Kecamatan Pacet nilainya mencapai milyaran rupiah. Kepala Desa Sukanagalih, Dudung Djunaedi, mengatakan, target perolehan PBB tahun 2014 jumlahnya kurang lebih Rp1,4 miliar dengan Wajib Pajak (WP) sekitar 7.000 lebih.
“Memang untuk target PBB di desa kita jumlahnya lumayan besar mencapai miliaran rupiah karena WP-nya juga mencapai ribuan,” katanya kepada Cianjur Ekspres saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Meski begitu, lanjut dia, tidak selamanya target tersebut bisa tercapai. Contohnya tahun lalu hanya mencapai kurang lebih 70 persen. “Kadang tercapai kadang pula tidak karena banyak kendala, seperti warga terutama yang tinggal di perumahan atau vila kan rata-rata berada di luar daerah seperti di Jakarta dan hanya sesekali datang. Hal itu menjadi kesulitan dalam melakukan penagihan, sehingga banyak tunggakan pajak dari warga terutama di perumahan hingga ada yang mencapai 10 tahun lamanya,” imbuhnya.
Dia pun menyebutkan, kalau secara hitung-hitungan di atas kertas dari tiga perumahan saja yang berada di wilayahnya nilainya mencapai lebih dari Rp1 miliar, belum bila ditambah dengan yang lainnya. “Untuk PBB dari perumahan Kota Bunga sekitar Rp700 juta, Puncak Resort sekitar Rp300 juta, dan Galaxy sekitar Rp100 juta. Sedangkan dari perumahan Nolina sekitar Rp40 juta,” sebutnya.
Dudung mengungkapkan, selain dari PBB, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Desa Sukanagalih mengandalkan dari hasil pertanian. Luas Desa Sukanagalih sekitar 763 hektar dengan 19 RW, 7 Kadusunan, 50 RT, dan sekitar 20 ribu jumlah penduduk atau kurang lebih 5.700 Kepala Keluarga (KK) dengan hak pilih mencapai 15 ribuan.(rud)

Cisokan jadi Korban Pembuangan Sampah

*Airnya Keruh dan Terjadi Sedimentasi

3
CIRANJANG – Sungai Cisokan di Kampung Pasangrahan Desa/Kecamatan Ciranjang kondisinya sangat memperihatinkan. Pasalnya, banyak warga yang memanfaatkan sungai itu untuk membuang sampah rumah tangga.
Wati (52) salah seorang warga setempat mengatakan, kondisi sungai menjadi kotor dan terjadinya pendangkalan akibat masih adanya warga yang membuang sampah ke sungai itu. “Kondisinya sudah tidak seperti dulu. Sekarang sungai kotor dan airnya juga keruh karena banyak sampah,” kata Wati, kemarin.
Padahal, tutur dia, aliran Sungai Cisokan merupakan salah satu saluran utama pembuangan air dari sejumlah anak sungai yang ada di daerah itu.
“Kondisi sungai harus baik apabila tak ingin terjadinya banjir. Namun, saat ini masih banyak ditemui sampah mengapung tentunya ini sangat disayangkan karena sungai bukan tempat pembuangan akhir sampah,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ciranjang, H Deding mengungkapkan, kesadaran warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai Cisokan ataupun sungai Ciranjang sangatlah penting untuk tidak membuang sampah di sungai. “Kondisi sungai harus dijaga dan ditata dengan baik jangan sampai menjadi tempat pembuangan sampah. Karena kondisi sungai yang kotor dan tercemar dapat merugikan warga dan musibah,” kata Deding, kemarin.
Untuk itu, tegas dia, warga harus menjaga dan mengerti tanggungjawabnya dengan tidak membuang sampah ke sungai. “Warga harus paham dengan kondisi ini sehingga sungai tersebut dapat berfungsi layaknya sungai, tanpa ada sampah dan limbah,” tegasnya. (ang)

Sampah TPA Pasirsembung Terbakar

*Warga Ngeluh Asap Mengganggu Lingkungan

1

JL RAYA CIBEBER – Sejumlah warga yang berdomisili di sekitar tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) Pasirsembung Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku, mengeluhkan kabut (asap tebal) yang berasal pembakaran sampah di TPA tersebut. Warga khawatir kabut asap yang mereka hirup setiap hari itu berdampak pada gangguan pernapasan dan iritasi pada hidung.
Yani Sumiati (42) warga Perum Pasirsembung mengatakan, hampir setiap malam sampah dari TPA dibakar. Akibatnya, kabut asap yang tebal menyelimuti perkampungan di sekeliling TPA tersebut.
“Bukan saja menghalangi jarak pandang, tapi juga mengganggu pernafasan,” paparnya kepada Cianjur Ekspres, kemarin (22/10).
Yani mengaku khawatir jika asap tebal dari pembakaran sampah itu akan mengakibatkan penyakit pernafasan dan iritasi pada hidung. Maka jika banyak warga yang terkena penyakit pernafasan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Cianjur harus bertanggungjawab.
“Asapnya kan masuk rumah. Kami mau tidur jadi terganggu. Bahkan saya sendiri terbangun dari tidur kalau sudah mencium asap,” keluhnya.
Senada juga dikeluhkan Mia Oktaviani Sulaeman (23), warga Kampung Ciranji. Dia menyebutkan, asap tebal dari pembakaran sampah itu juga bau busuk. Sehingga banyak warga yang merasa tidak nyaman dengan aktivitas pembakaran sampah di TPA tersebut.
“Kalau bisa pembakaran sampahnya jangan setiap hari. Kan bisa dilakukan setiap seminggu sekali, agar warga tidak terganggu ketika hendak tidur,” tuturnya.
Dia berharap, DKP dapat mendengar keluhan warga karena sudah sepekan terakhir merasa tak nyaman. Bahkan, udara pagi juga tidak segar karena bau asap masih tercium.
“Aktivitas pembakaran sampahnya jangan setiap hari. Mudah-mudahan Dinas Kebersihan bisa mendengar keluhan kami ini,” harapnya.
Kabid TPA Pasirsembung DKP Kabupaten Cianjur, Toto Minarsa menuturkan jika dibandingkan musim hujan, musim kemarau sangat berpotensi terjadi kebakaran.
“Bukan hanya kebakarannya saja, melainkan dampak polusi untuk warga sekitar TPA ataupun dari para pemulung yang selalu berada di zona aktif,” jelasnya kepada Cianjur Ekspres, kemarin (22/10).
Toto juga mengungkapkan, kebakaran di TPA bukan hanya terjadi di Cianjur, melainkan di beberapa kota yang ada di Jawa Barat seperti Tasikmalayan, Ciamis, dan lainnya. “Kami tidak tahu penanganan mereka seperti apa, karena kami juga fokus sama pemadaman kebakaran di sini,” tambahnya.
Kebakaran yang terjadi di saat semua peralatan sedang dalam kondisi rusak. Anggaran pemkab dalam pengelolaan TPA juga sangat minim. Sehingga untuk perbaika peralatan juga tidak bisa langsung turun. “Banyak warga awam yang menyangka bahwa kami yang membakarnya. Padahal itu terbakar secara alami karena sampah yang terus tertumpuk akhirnya menghasilkan gas metan dan sampah yang posisinya paling atas semakin mengering, dan sinar matahari yang kuat jadinya proses kebakaran itu muncul,” ujarnya.
Kemarin, api yang sudah mulai padam hanya tinggal memastikan asapnya menghilang saja. Karena, lanjut Toto, jika masih ada asap maka di bawah tumpukan sampah tersebut apinya masih menyala. Maka dari itu, tumpukan setiap beberapa jam sekali petugas piket menyiramkan air seadanya.
“Kami sudah tidak mengunakan damkar lagi, karena pasokan air mulai berkurang untuk saat ini. Jadi kami mengunakan persediaan air yang dimiliki saja,” pungkasnya.(red/nik)

ODHA Didominasi Usia Produktif

KPA Genjot Penyuluhan HIV/AIDS di Sekolah

4

JL MAHAKA – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Cianjur genjot sosialisasi dan penyuluhan HIV/AIDS di tingkat sekolah. Hal tersebut, bertujuan untuk menekan angka orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Cianjur yang terus bertambah dari 454 menjadi 461 orang. Terlebih angka tersebut didominasi oleh usia produktif.
Pengelola Program KPA Kabupaten Cianjur, Rian Muhammad Yusuf, mengatakan, untuk menekan angka ODHA, KPA selalu mengadakan sosialisasi di tingkat sekolah. Dirinya mengaku bahwa penyuluhan untuk tingkat pelajar tidak membutuhkan waktu yang lama.
“KPA Cianjur melakukan sosialisasi kepada para siswa melalui guru sekolah. Terkecuali kalau guru mau mengadakan penyuluhan di sekolah sesuai undangan dan kami pun siap,” ungkapnya kepada Cianjur Ekspres, belum lama ini.
Dia menyebutkan, sekolah yang akan mengadakan penyuluhan bersama KPA tidak dipungut biaya apapun alias gratis. Materi yang diberikan cukup 20 menit berisi tentang HIV dasar sampai epidemi HIV Kabupaten Cianjur.
“Dari penyuluhan, diharapkan bisa menyetop angka pertumbuhan ODHA di Kabupaten Cianjur,” jelasnya.
Saat ini, dia menambahkan, usia produktif 15 sampai 35 tahun seperti pelajar mendominasi 88 persen ODHA. Berdasarkan jenis kelamin, 46 persen adalah lelaki dan 54 perempuan. Penularan pun didominasi melalui hubungan seksual dengan angka mencapai 88 persen, 1 persen dari transplacental, dan 11 persen lagi melalui jarum suntik.
“Dari penyuluhan yang telah kami lakukan, ada hasil positif yang didapat. Beberapa di anataranya yang merasa sudah pernah melakukan hubungan seksual langsung memeriksakan dirinya terkena atau tidak,” paparnya.
Namun, yang mencengangkan karena usia produktif pun saat ini sudah cukup banyak yang masuk dalam komunitas laki seks laki (LSL). Mereka yang memeriksakan diri juga ikut mengajak sesamanya untuk mengetahui dirinya.
“Dari yang sudah diperiksa, ada juga di antaranya positif HIV,” tandasnya.(mg25)

Perairan Jangari Memprihatinkan

Dipenuhi Sampah dan Eceng Gondok

2
MANDE – Perairan Jangari di Desa Bobojong, Kecamatan Mande kondisinya cukup mengkhawatirkan. Penyebabnya karena permukaan air banyak sampah rumah tangga dan juga tanaman eceng gondok yang dapat merusak ekosistem air.
“Sampah seperti plastik, botol air mineral, styrofoam, gabus, dan tumbuhan eceng gondok mulai banyak memenuhi permukaan air waduk,” kata Hendra, salah seorang warga sekitar, kemarin.
Dia mengatakan, selain persolan sampah, Keramba Jaring Apung (KJA) yang sudah tidak digunakan dan rusak juga menyebabkan kondisi perairan di waduk itu kotor. “Banyak bangunan KJA yang sudah tidak berfungsi, tapi masih berada di atas air ini juga menyebabkan kondisi perairan menjadi kotor,” katanya.
Sementara itu, Ujang (40) salah seorang pemilik KJA mengaku, sangat terganggu dengan banyak sampah dan juga eceng gondok. Kondisi itu berdampak terhadap budidaya ikan yang dijalaninya.
“Dengan banyaknya sampah dan tumbuhan eceng gondok mempengaruhi pada pertumbuhan ikan yang ada di keramba, malah dapat menyebabkan kematian pada ikan,” ucap Ujang.
Dia menuturkan, untuk mengantisipasi banyaknya sampah di atas permukaan air diperlukan perhatian semua pihak, baik pengelola maupun para pengunjung yang berwisata.
Terpisah, Kepala UPTD Balai Pengembangan Budidaya Perikanan dan Perairan Umum Cirata, Ade Durrahman mengatakan, jumlah kolam jaring apung (KJA) di perairan tersebut telah melebihi kapasitas. Kondisi ini berdampak pada buruknya kualitas perairan beserta produksi budidaya ikan air tawar di perairan itu.
“Jumlahnya sudah sangat tidak ideal, bahkan over kapasitas. Untuk idealnya hanya 12 ribu KJA, sementara saat ini mencapai 52 ribu KJA,” kata Ade, kepada Cianjur Ekspres, kemarin.
Akibat berlebihnya KJA itu, tutur dia, berdampak pada penurunan hasil panen budidaya ikan. Kondisi itu disebabkan oleh penurunan kualitas perairan akibat penggunaan pakan yang berlebihan dan kelengkapan lain KJA yang tidak ramah lingkungan.
“Seperti yang terjadi kemarin, sedikitnya 13 ton ikan mati. Kondisi ini tidak hanya akibat surutnya permukaan air, tetapi karena buruknya kualitas perairan,” tuturnya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, ujarnya, pihaknya hanya bisa melakukan pembatasan pemberian izin untuk mendirikan kolam jaring terapung baru . Pihaknya tidak akan lagi memberikan izin pendirian kolam baru sebelum jumlahnya menurun dan mencapai batas maksimal.
“Kami secara tegas sudah tidak mengeluarkan izin untuk penambahan KJA. Hal ini untuk mengembalikan kondisi perairan pada tahap normal, agar para pemilik KJA dapat berusaha dengan nyaman dan aman,” ujarnya. (ang)

Jumlah Gay di Cianjur Bertambah

40 Persen Diduga Mengidap HIV/AIDS

DCIM999MEDIA

JL MAHAKA – Berdasarkan data terbaru Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur, jumlah laki seks laki atau sering disebut gay di Cianjur saat ini bertambah. Hal tersebut berdasarkan pengakuan ketua paguyuban LSL dan Waria, sebelumnya terdapat 95 orang. Namun kini bertambah menjadi 110 dari data September.
“Jumlahnya sekarang sekitar 110 orang berdasarkan data September dari pengakuan ketua paguyuban LSL dan Waria. Sedangkan jumlah waria sekarang ada 180 orang, tapi belum data pasti karena bisa saja bertambah,” ungkap Pengelola Program KPA Cianjur, Rian Muhamad Yusuf kepada Cianjur Ekspres, kemarin.
Secara kasat mata, perbedaan antara gay dan waria dapat terlihat jelas. Waria adalah lelaki yang memiliki kelakuan menyimpang dan berdandan layaknya perempuan, sedangkan gay laki-laki biasa hanya saja gemulai dan sama-sama menyimpang.
“Kami belum bisa memastikan jumlah yang terkena HIV AIDS. Namun berdasarkan data kami dari Januari sampai September 2014, orang dengan HIV AIDS (ODHA) ada 80 kasus dan 40 persen di antaranya berasal dari gay dan waria,” tambahnya.
Data KPA, sejak 2001 di Cianjur tedapat 461 ODHA. Rian menambahkan, KPA selalu berusaha melakukan pencegahan agar tidak banyak warga yang tertular. Untuk menyembuhkan perilaku tersebut dibutuhkan tekad yang kuat dan tentunya niat yang bulat karena melakukan seks sesama jenis adalah perbuatan yang dimurkai Allah Swt, seperti kisah Nabi Luth AS.
“KPA selalu melakukan pendekatan dengan ketuanya, karena bawahan selaku nurut ke ketua. Kami mengimbau mereka agar tidak dan jangan sampai menularkan penyakit tersebut ke orang lain. Saat ini di antara mereka yang mengidap HIV AIDS sudah ada mencapai fase IO atau Infeksi Oportunis,” tambahnya.
Di Cianjur ada beberapa tempat favorit melakukan hubungan seks berisiko. Tempat tersebut adalah lokasi wisata atau tempat yang sejuk di pegunungan. Dia pun menambahkan bahwa kaum gay dan waria ada pula yang terdesak kebutuhan ekonomi.
“Kalau gay ada yang sudah menikah tapi nafkahnya dari melakukan seks kaya gitu, namun ada pula yang bekerja. Sedangkan waria kebanyakan di salon. Semoga mereka tidak menularkan penyakit itu dan kembal ke jalan yang benar,” pungkasnya.(mg25)

Mendidik Berpedoman Al-Quran

Lokasi di Pedesaan, Kualitas Jangan Diragukan

4

JL LIMBANGANSARI – TK Islam Terpadu (TKIT) Izzatul Islam (Izis) yang berlokasi di Jalan Limbangansari Kampung Tipar Kaler Nomor 5D RT 02/RW 07 Cianjur memiliki misi mengembangkan berbagai potensi anak.
Petugas Staf Tata usaha, Hana Ananda mengatakan meskipun lokasi sekolah berada di pedesaan, tetapi kualitas jangan diragukan. Saat berkunjung, terdapat pula Kepala TKIT Izis, Reni. Hanya saja dikarenakan sibuk wawancara diwakilkan oleh Staf tata Usaha. Lokasi sekolah terbilang nyaman karena cukup sejuk dan sarana memadai.
“Lokasinya memang di pedesaan, tapi mengenai pendidikan kami sama dengan TK terkemuka lainnya di kota, bahkan di sini lebih terpadu karena terdapat beberapa kegiatan plusnya seperti salat duha, out bound, berenang, berkebun, peringatan hari besar Islam ataupun nasional, pemeriksaan gigi, penimbangan, konsultasi psikologi,” ungkapnya kepada Cianjur Ekspres, belum lama ini.
Seperti TK lain, di sana terdapat dua rombongan belajar (rombel) yang terdiri dari Kelompok A dan B. Bagi siswa berusia empat tahun di simpan dikelompok A, sedangkan kelompok B untuk siswa berusia lima sampai enam tahun.
“Kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai dari Senin sampai Jumat pukul 07.30 sampai 10.30. Nah kalau Jumat berakhir sampai pukul 10.00. Ada dua kelas yang terdiri dari kelas A dan B,” katanya.
Hana mengatakan bahwa banyak alumni di sana yang berprestasi di sekolah lanjutan. Tak hanya itu, lulusan di sana pun siap memasuki jenjang SD/MI. Mendidik siswa berpedoman Al-Quran diharapkan membuat siswa memiliki akhlakmulia.
“Talaqi Al-Quran adalah program unggulan kami, isinya berupa materi muatan lokal hapalan, pengenalam bahasa Arab dan Inggris, aqidah akhlak, surat pendek, doa harian, bacaan dan praktik salat.
Hana berharap agar siswa dapat berprestasi di jenjang yang lebih atas. “Ke depan semoga siswa semakin berprestasi, memiliki akhlak baik,” tandasnya.(mg25)